Wanita Dalam Tangisan Hujan

Membesarkan harap dalam letih menghadapi perjalanan hidup..
Membawa lelah dalam setiap lelap mimpi dalam tidurnya..
Mengharapkan esok akan lebih indah dari hari kemarin..

Tidak ada waktu yang akan terbuang percuma tanpa adanya sebuah pelajaran. Setiap detik waktu akan memberikan pelajaran berharga, pengalaman akan senang dan sedihnya akan mendewasakan..

Sekali lagi hujan jatuh di kota ini..

Suara hujan selalu membawa goresan kerinduan akan segala sesuatu yang pernah ada.
Sejuknya membawa pada sebuah penyesalan..

Wanita dalam tangisan hujan,

Wanita yang selalu ada dalam setiap langkahku, bahkan dalam setiap detik nafasku. Wanita yang selalu memberikan segala sesuatunya untuk langkah ini. Ikhlas merawat membesarkan. Tanpa pamrih rela membiarkan waktunya terbuang untukku, bunda..

Bunda, jangan menangis..

Bunda tau, hujan selalu jatuh meskipun hujan tau rasanya sakit jatuh berkali-kali. Hujan tidak pernah menyerah dalam memberikan kesejukan meskipun dia tau bahwa dia akan selalu jatuh dan sakit.

Teruslah tersenyum, menjadi matahari yang menerangi dalam langkahku.
Teruslah menjadi warna dalam putih hidupku, lukislah harapmu untukku. Kelak suatu saat, aku akan menjadikan harapmu itu kenyataan.

Untuk bunda,
Terimakasih membesarkanku dengan keikhlasanmu, membuang waktumu untuk memperhatikanku.
Selalu menasehati setiap langkahku menuju jalan yang benar. Bahkan tidak pernah mengusikku dengan lelahmu..

Bunda, aku memohon pengampunan kepada-Nya.
Dosaku belum bisa membahagiakanmu..

Aku berdoa,
Kelak segala lelah, letih dan keringatmu dalam setiap keikhlasanmu menghadapi segala sesuatu akan tergantikan dengan dijabahnya do’a bahagiamu.
Kesehatanmu selalu diberikan oleh-Nya. Senyummu selalu dijaga-Nya.

Untuk aku yang berdosa,
Segeralah menjadi dewasa, mengganti waktunya untuk merasakan bahagia hasil dari lelahnya selama ini.
Segeralah mengganti penatnya dengan mimpi bahagia, agar kelak disetiap paginya dia selalu tersenyum..

Maaf, hanya goresan tinta ini yang mewakili perasaanku..

Aku, anakmu ~

Untuk Cerita Yang Berlalu

Untuk cerita kita yang berlalu..

Apa kabar cerita kita? Aku minta maaf atas segala yang pernah terjadi. Atas janji yang pergi sesuka hatinya..

Apa kabar cerita…?

Masih ingat dengan awal kita bertemu, awal kita saling bertatap, dan awal bagaimana kita memulai cerita kita?
Masih ingat genggaman tangan yang selalu menenangkan? Masih ingat dengan pundak yang bisa membuat nyaman disetiap saat?

Entah kemana cerita itu pergi, entah ini selesai atau akan ada kisah lainnya setelah ini.

Di waktu senja sore datang, kadang lamunan tentang kita menghiasai langit jingga, bahkan matahari dengan hangatnya seolah itu kita yang tersenyum. Aku berharap semua baik, seperti setiap detik dari cerita kita.

Apa kabar kamu? Apa kabar kalian?

Maaf aku hadir diantara kalian, diantara hubungan yang aku tidak pernah tau. Maaf aku menggoreskan tinta merah dihubungan kalian. Maaf aku pernah membuatnya rumit. Maaf aku pernah datang dengan egoku untuk mengakhiri kalian..

Dan jika suatu waktu aku mempunyai kesempatan, apa boleh aku meminta maaf kepada cerita kita? Apa aku boleh meminta sedikit waktu untuk mengenang?

Aku tidak akan mengulang ego untuk membuat cerita ini bahagia..

“Karena pada akhirnya kita tau, bahwa kita bisa menentukan kapan kita akan menikah, mungkin kita bisa memilih dengan siapa kita akan menikah. Tapi pada sisi lain, kita tidak akan pernah tau kapan kita akan jatuh cinta dan kepada siapa kita jatuh cinta. Dan saat ini yang aku tau, kita tidak pernah tau kapan kita akan jatuh terluka karena cinta dan kapan kita akan merasa sakit karena terjatuh dalam cinta.”

Pelangi di Senja Kotaku

Untuk pelangi di senja kotaku

Dikota ini sepertinya matahari tampak malu-malu untuk bersinar. Rintik hujan yang turun seakan berirama mengikuti arah angin. Aku membiarkan rintikan hujan itu masuk melewati celah jendela kamarku. Mungkin saja  rintik-rintik hujan adalah rindumu yang disampaikan melaluinya. Benar saja, hujan sepagi ini membuat ku merasa ingin memeluk rindu itu. Tapi bagaimana bisa, karena kita berada di tempat yang berbeda.

Pertanyaan itu seakan melambung tinggi. Sesaat timbul haru dalam hati, menatap hampa ke mendung dilangit ini. Ingin rasanya langit yang mendung dan hujan yang turun ku rubah menjadi pelangi yang dapat menghapus haru. Ya, pelangi mungkin obatnya.

Lama aku termenung, pagi telah berganti pada siang yang masih tetap mendung. Rintikan hujan tak berhenti sejauh mataku memandangi langit. Harapku disiang ini awan-awan putih melukiskan senyumanku disela-sela gumpalannya.

Kini senjapun telah menampakkan eloknya, mendung yang tadinya bertemankan hujan telah menyadarkanku begitu cepat waktu berlalu. Dan aku masih saja tak beranjak dari lamunanku. Angan ku terus melayang bagai menembus langit. Tetapi apa yang terjadi, langit senja yang kupadangi menjawab tanyaku, mengapus haru dengan menghadirkan pelanginya.

Pelangi, merah, kuning dan hijau. Begitu bewarna membuat siapapun yang memandangi menjadi terbangun dari lamunan panjang. Tak terkecuali aku. Akupun berlari-lari kecil untuk melihat pelangi itu lebih dekat. senyumku merekah. Langit mendung dan hujan telah menghadiahi pelangi. Langit dikotaku telah dilukis oleh lingkaran indah ini. Pelangi disenja kotaku, kuharap lingkaran indahnya berujung di kotamu. Aku menunggu pelangi.

Untuk Kekasihku, Masa Laluku

Terimakasih telah menjadi masa lalu, pernah singgah di hati untuk waktu yang sangat lama. Terimakasih telah memberikan yang terbaik, menutupi segala yang buruk.
Terimakasih karena mau mengerti keadaanku. Terimakasih mau bersabar untuk menemaniku dan memberi pengertian dalam marahku. Terimakasih menjadi pelipur laraku. Terimakasih telah mengisi waktu kosong di hariku.

Dan terimakasih, untuk mau bersanding denganku. Menjadi masa depanku, masa laluku.

Untuk Calon Mertua

Saya yang menulis surat ini,
Ananda calon menantu.

” Untuk mama, maaf sebelumnya menuliskan surat ini. Saya tidak tau harus dengan apalagi mengungkapkannya, karena yang saya tau hanya lewat tulisan dapat mengungkapkan apa yang saya rasa.

Lewat surat ini, saya ingin mengutarakan perasaan saya kepada anak mama. Saya ingin menyampaikan niat baik saya untuk melanjutkan hubungan ini ketahapan yang lebih serius, semoga mama berkenan untuk memberi restu agar segala sesuatunya lancar untuk kedepannya.

Yang kedua, saya ingin menyampaikan permohonan kepada mama agar tidak menjodohkan anak mama dengan pria lainnya karena saya belum memiliki pondasi untuk memijakan kaki bersama anak mama. Yang saya tau, saya bisa menjanjikan bahagia lahir dan batin di masa depan. Saya harap mama bisa mengerti.

Yang terakhir, saya ingin menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya karena telah membuat anak mama jatuh hati kepada saya yang hanya manusia biasa. Tidak memiliki kelebihan apapun, baik secara materi atau lainnya. Tetapi mama harus mengerti, saya bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga bila bersanding dengan anak mama nanti.”

Sekian surat dari saya,
Ananda calon menantu.

Surat Untuk Warna

Terpampang jelas sebuah senyuman di lembaran sebuah klise hitam putih yang ada di balik bingkai tua itu. Sepasang kekasih dengan gaun hitam putihnya merangkai cinta dalam rangkaian mawar putih.

Ini cerita tentang sebuah warna yang menyatukan sepasang kekasih yang dimana mereka tidak pernah ingin mencinta dalam waktu yang lama …

Aku menjadi saksi, tetapi aku bukan Tuhan yang mengatur pertemuan mereka di bawah lukisan menara roma. Aku menjadi penulis cerita mereka, meskipun hanya terungkapkan dari senyum bahagia tapi itu cukup bagiku untuk menuliskan kisahnya.

Tentang hitam masa lalu keduanya, sama-sama pernah jatuh dalam warna kelabu pada kisah percintaan mereka. Apa yang mereka impikan tentang pelangi, pernah hancur seperti marahnya langit saat hujan deras yang bercampur dengan petir. Iya, mereka pernah sama-sama mencinta dan pernah merasakan bagaimana saat mereka ditinggalkan. Apa yang mereka bangun dalam waktu yang sangat lama dengan pondasi yang sangat kuat, hancur karena rusaknya sebuah janji. Bukan hanya sekedar janji,  itu tentang sebuah awal ikatan tali suci yang akhirnya hanya kenangan pahit.

Terpuruknya mereka karena suatu keadaan, membuat mereka tidak percaya tentang cinta lagi.

Hingga suatu ketika, warna yang bermahkotakan cahaya mencoretkan warna-warnanya pada hari-hari mereka. Sampai di ujung suatu malam, mereka bertemu di bawah sebuah lukisan menara roma.

Lukisan yang bagus ya, kata seorang pria pada wanita yang memandang lukisan itu sejak lama. Ini lukisanku, apa yang aku lukis adalah tempat dimana tunanganku dulu berjanji akan membawaku kesana, dengan nada sayu wanita itu menjawabnya. Aku pernah menjadi seorang sepertimu, pria itu menjawabnya lantang. Benarkah ? Lalu bagaimana sekarang, wanita itu kebingungan …

“Aku sudah melupakannya, itu hanya masa lalu dengan warna kelabu dan hanya aku yang tau. Tidak perlu terlalu dipikirkan, semua berlalu dengan waktu yang berjalan, perlahan kita akan melupakannya. Aku mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, memberi peringatan agar dia tidak mengganggu di hari esokku.”

Tidak berujung, mereka melukis bersama dengan warna yang sangat indah dan menggambarkan segala sesuatu dan menjadikannya sebagai bukti cinta mereka. Terkadang, hanya hitam dan putih yang menjadi warnanya tetapi bila disatukan menjadi perpaduan masa lalu dan harap masa depan yang penuh cerita.

“Di balik senyuman yang ada pada bingkai, aku menuliskan sebuah surat yang sebenernnya ingin mereka sampaikan …

Surat untuk warna …

Meskipun kita pernah memiliki kelabu di masa lalu, kita tau bahwa itu juga adalah bagian darimu. Hitam dan putih jika di satukan kan menjadi kelabu. Ibarat hitam masa lalu dan putih adalah hari esok, semuanya saling melengkapi.

Tidak ada seseorang yang tidak mempunyai kelabu di masa lalunya.

Tetapi, kita berterima kasih kepadamu warna. Kita menjadi mengerti tentang apa yang telah diberikan baik atau buruk, menjadikan pelajaran untuk kita. Dan kita mengerti, bahwa cinta tidak mudah didapatkan tanpa pengorbanan.

Kita mengorbankan sesuatu, yaitu masa lalu. Untuk mendapatkan hari ini.

Untuk warna, terimakasih. Sayang kita telah meninggalkan dunia ini tanpa melihat indahnya warna lainmu.

Sekali terima kasih untuk kelabumu, dan untuk hitam putihmu…”

Titik Pena

Ketika aku melihat lembaran coklat yang berhiaskan kalimat yang begitu panjang, aku teringat tentang sebuah titik pena. Hanya sebuah titik, tetapi apa yang kita tau tentang itu?

Titik, kebanyakan dari orang selalu beranggapan bahwa setiap apa yang diakhiri oleh titik akan berakhir. Bukan, titik hanyalah pembatas untuk kita agar dapat beristirahat. Masih ada kalimat yang bisa kita rangkai setelah itu.

Setiap menggoreskan pena diatas putihnya kertas, seakan awang kita ada diatas kertas itu untuk ikut serta mendorong pena menciptakan sebuah huruf.

Berapa banyak titik yang kita buat, berapa banyak juga kalimat yang ada dibalik sebuah titik.

Bukan akan berakhir, setiap cerita yang berakhir hanya berpindah ke judul lain yang dimana berlatar belakang sama dengan cerita sebelumnya.

Kita adalah penulis cerita kehidupan kita. Jika ingin kehidupan kita indah, jadilah sesuatu yang dapat mengindahkannya. Bukan hanya berkeluh kesah dan mengakhiri dengan sebuah titik pena.

Satu titik yang kita letakan dalam sebuah lembaran, akan bisa menjadi indah bila kita tau bagaimana caranya melukis. Dan bila kita ingin merubah sesuatu, belajarlah untuk memahaminya. Lakukanlah yang sekiranya itu indah dan kita mampu, jangan memaksakan yang dimana kita tau bila akhirnya hanya lelah.

Titik pena, akan menjadi saksi akhir dari kalimat atau akan menjadi awal sebuah goresan. Belajarlah untuk menjadi lebih. Jadilah seperti namamu, banyak harap di balik nama itu.