Kita dan cerita kita

( Pagi ini )

Sebenarnya semua tampak berbeda,
Dengan ada atau tidaknya kehadiranmu.
Apa yang aku tunggu di pagi dan malam, tidak akan pernah datang. Entah kemana perginya, dan kemana harus mencarinya. Seakan puing-puing dari dedaunan kering yang terbawa angin, mengisyaratkan bahwa mereka adalah kenangan yang berceceran. Menjadi sedikit penyesalan.

Mungkin pagi ini akan terasa lama,
Karena pagi ini akan aku habiskan untuk menyesalkan keadaan yang pernah ada. Hanya menyesalkan apa yang pernah kita hargai. Atau lebih tepatnya menyesalkan, kita.

Kita yang bersahabat, kita yang menjadi sepasang kekasih dan kembali pada aku yang menjadi sahabatmu. Aku yang menjadi kertas untuk tempat menuliskan cerita tangismu, dan air mata yang menjadi penanya.

Aku tau, sedikit kesalahan bisa merubah semuanya. Juga dengan kesalahanku, merubahmu menjadi kekasih dari sahabat dan sekarang, menjadi kekasih orang.

Aku dan cerita ini, enggan untuk meninggalkan. Karena di balik ceritamu dan kekasihmu, masih ada harapanmu untuk bersamaku. Aku tidak tau ini apa, dan aku tidak pernah tau ini arti dari apa. Atau mungkin ini adalah ELEGI DARI SEBUAH HARAPAN PALSU.

Setidaknya, kita bahagia dengan keadaan yang seperti ini. Entah ada alasan apa di balik ini, aku masih menyimpan waktu terbaikku untukmu. Selamat pagi.

( Malam ini )

Sepertinya, segelas coklat hangat dapat membuatku nyaman dengan udara sedingin ini. Atau hanya aku yang merasakan dinginnya.
Segelas coklat dan melihat kekasih yang selalu aku jaga seperti bagaimana menjaga do’a untuk mereka yang terbaik, sedang bermesraan dengan kekasihnya. Mungkin aku hanya kekasih-kekasihnya yang lain.

Bagaimana kalian menggenggam, bagaimana kalian memandang, bagaimana kalian saling melempar senyum, dan bagaimana kalian berpelukan, itu sama ketika kita menjadi sepasang merpati, hanya kita.

Kita menari dalam lantunan lagu yang membawa kita kembali pada satu cerita tentang kita. Membawa kembali cerita yang kita pertahankan, dan hanya kita yang tau.
Kisah awal membawa kita berjalan bersama, kisah akhir membuat kita terpisah dalam keadaan yang masih sama merindu, dan menyimpan perasaan yang sama.

Perbedaan yang ada pada kita, menjadikan kita menyesali keadaan yang telah terjadi. Kita tersudut pada pertanyaan yang sama, yang selalu menjadikan hari kita lebih kelam walaupun kita selalu tersenyum. Pertanyaan yang selalu sama di setiap lamunan, apakah jika kita kembali akan selalu hanya indah di dalamnya, atau akan menjadi kisah yang sama lagi.

Selamanya kita bersama, itu yang selalu kita ucap. Memberikan yang terbaik untuk masing-masing dari kita, itu yang terjadi dalam hari-hari kita. Menjauh untuk menutupi segala rasa yang ada, itu yang ada sekarang.

Kita, membicarakan tentang kita tidak akan pernah ada akhirnya. Aku percaya siapapun, selalu mempunyai cerita tentang “Kita” yang lainnya.

Kemanapun aku berjalan, selalu membawa angan tentang kita. Dan dalam lamunan, jauh bertanya dimana kamu sekarang.
Dalam setiap do’a, tersisipkan selalu yg terbaik untuk kita di depannya nanti. Kemana kita akan melangkah, itu pilihan dari kita.

Kelak kita akan bertemu, kelak kita akan kehilangan kita yang dulu pernah kita kenal. Kita berproses untuk menjadi lebih baik, seperti apa yang kita janjikan dulu. Kita akan bertemu dengan segala yang berbeda.

“Benar jika kupu pun berproses berat untuk menjadi sebuah kupu-kupu yang cantik dengan warnanya.”

Kenapa aku tidak pernah lelah dan mencoba menggantikan segala yang ada. Ah, itu memang kesetiaan. Menanyakan pertanyaan pada hening, dan setiap jawaban tertulis dalam goresan titik demi titik. Perlahan menjabarkan perasaan, perlahan menciptakan kenangan yang berlari dalam pikiran.

Aku masih terjaga mengingat semua tentang kita, setiap yang di akhiri titik pena, masih mempunyai cerita lainnya. Benar, titik bukan akhir dari sebuah cerita, masih ada cerita lain di balik titik yang ada.
Alunan lagu menemani setiap gerakan huruf demi huruf yang tersusun dengan rapi. Alunan lagu juga yang menyamarkan isakan tangis kecil, seoalah dia menghapus air mata ini.

Malam ini terasa sangat panjang, ini malam terkahir aku akan menulis. Ku titipkan segalanya kepada Tuhan. Keesokan harinya aku akan pergi, melangkah dari kota ini membawa sekotak kenangan yang aku simpan dalam kotak berwarna coklat. Warna yg kita suka.

“Selamat jalan kita, tidak akan ada kita yang dulu. Kita akan kembali nanti, jika dari kita akan sama membawa perasaan dan kenangan yang sama. Kita akan bertemu di sore jingga, bersama senja milik kita.”

“I will let you go .. I know you’re the best thing i ever had, i know you and me, can’t be us now. But maybe it will someday. Take your choice ..” – Pesan terakhir yang selalu aku baca.

Selamat malam, dan maaf aku mengakhiri cerita dari kita. Kelak kita akan bertemu, love. Dari aku sahabatmu.

( Yiruma – River Flow In You )

Ayah tidak akan pulang, nak.

“Berdo’a, jaga bundamu dan kedua adikmu.”

Pesannya yg selalu aku ingat, pesan dari ayah untuk anandanya yg menjadi harapannya.

Jauh dari jarak bumi ke titik bumi yang lain,setiap ayah yang merindukan anak-anaknya, ada tangis seorang ayah yang menyesali sebuah perpisahan.

Mungkin dari kalian menikmati berada di tengah-tengah hangat lingkungan keluarga, dan untuk kalian yg lain merasa iri dengan keadaan keluarga yg ada.
Menyesali keadaan yg telah terjadi, atau berharap merubah kembali segalanya. Itu bukan do’a, itu harapan dr kita.

Ahh, semua berputar. Ada aku kecil yang bermanja pada ayah. Tangisku adalah hiburan untuknya, marahku sewaktu itu adalah keharusannya untuk menenangkanku dengan segala caranya.
Sekarang aku yg mencarinya, keberadaannya entah dimana.

“Tahun ke 14, terlalu lama ayah pergi. Ayah pasti akan membawa bingkisan untuk kita, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan menjaga kita jauh disana.”

Aku hanya takut kehabisan waktu, tidak bisa membalas segala sesuatunya. Ayah, terimakasih untuk percaya.

Hari ini dia berulang tahun,

Lewat sudah 50 tahun lebuh usianya.

Tuhan, dimanapun dia saat ini,

Berikan segala sesuatunya untuk yang terbaik.

Dekatkan dia dengan surga-Mu.

Selamat ulang tahun, ayah.

Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu, kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya …

Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaib hidup ini ..
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri ..
Hidupkan lagi mimpi, cita-cita yg lama ku pendam sendiri ..

Berdua ku bisa percaya …

Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia. Dan kau ada, di antara miliyaran manusia,

DAN KU BISA DENGAN RADARKU MENEMUKANMU …

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi, rasaku, cintaku, padamu ..

( Selanjutnya .. )

Selebihnya kita mungkin akan menjadi sahabat, selebihnya kita tidak tau, 1 menit ke depan bukan milik kita.

Mungkin kita akan kehilangan, mungkin kita akan memahami setiap alasan untuk pergi, atau mungkin kita akan selalu setia bersama kenangan.

Apa yang ada akan menjadi satu arti, luka dan kenangan. Hampir sama bentuknya, tapi berbeda arti dan bisa menjadi alasan untuk melangkah jauh atau untuk bertahan.

Sayang, beberapa saat yg lalu, di angka yg sama, kita terlelap dalam jarak yg mendekatkan. Hanya ada aku dan kamu. Di waktu ini, kita berada dalam jarak yg memisahkan. Apa kabar ? Masih seperti kamu yg dulu ?

Tidak perlu takut untuk menghadapi, aku belajar dari cara berpikir kita, antara bagaimana kita melupakan dan mempertahankan sesuatu untuk alasan sesuatu.

( Perahu Kertas – Maudy )

Dua Puluh Dua

00:22, 22 september ..

Aku membuka telephone genggamku, ada satu pesan singkat.

Happy 22

Hari ini tanggal 22, tepat beberapa waktu lalu aku menemukan di seorang yang bisa mengisi waktu salam hariku. Sayang, sekarang semua berubah.

Singkat balasku,

Happy 22 too ..

Lalu pesan demi pesan berlanjut.
Dia yang sekarang menjadi milik orang lain, masih mengingat angka ini.

Sayang, kita tidak bisa merayakan berdua. Seandainya …

(Isi pesanku untuknya ..)

Berjalannya waktu tidak merubah apa yang kita rasakan,
Kita masih menyimpan segalanya dan hanya kita yang tau ..
Kembali aku terdiam, aku duduk di kursi panjang di sebuah warung kecil.
Aku buka pesan masuk, aku baca kembali pesan-pesan yang pernah ada ..

Ahhh ! AKU RINDU !!

“Kita yang terjaga jarak, memisahkan waktu.
Kita yang telah berbeda, masih menyimpan kenangan.
Dan kita adalah kita.
Hati kita yang masih saling memiliki,
Masih ada cerita aku dan kamu,di balik cerita kalian.”

Aku teringat tentang beberapa lagu, lagu dalam folder yang dia pernah berpesan agar aku mendengarkan. SEPTEMBER – DAUGHTRY ..

Of all the things I still remember
Summer’s never looked the same
The years go by and time just seems to fly by
But the memories remain

Aku terbawa dalam alunannya, dan membuka beberapa luka.
Rasa bersalah yang mendalam yang tersisa.

Maaf, saat itu benar bila aku membiarkannya sendiri. Saat dimana dia butuh apa yang dinamakan perhatian. Bukan hanya dalam hitungan jam, bahkan bukan hanya dalam hitungan hari. Dan sampai kita bertemu kembali, dan benar aku tergantikan. Dia yang bisa memberimu rasa itu, dalam hitungan hari bisa merubah segalanya. Dan untuk kamu, maaf.

Walaupun aku tau, aku masih yang terbaik dan masih selalu ada, bahkan aku masih menjagamu dari sini, dari sudut pelangi yang akan memberikan pundakku untuk menopang beban hidupmu, sayang.
Mungkin untuk sekarang, aku akan berdiam dan melihat bagaimana dia melakukanmu, apa sama seperti aku ? Apa dia sebaik aku ? Atau mungkin dia akan bisa menerima segalanya tentangmu.

Sayang, kelak kau akan membaca tulisan ini.
Singkat pesanku di dalamnya untukmu …

“Maaf, mungkin aku terlalu manja.
Aku senang kamu masih mengingatnya sayang,
Singkat waktu yang ada membuat kita berproses menjadi seperti ini.
Apa kabar kamu.
Seandainya waktu itu kamu bisa lebih sabar, mungkin sekarang tidak seperti ini.
Keadaannya akan sama,
Penuh dengan cerita angan kita tentang hari esok.”

“Apa kabar mama ?
Mungkin sekarang kamu menyimpan beban itu sendiri (lagi).
Sayang, ingat sampai saat ini aku ada di belakang kamu.
Menemani setiap waktu, menemani dalam jarak yang entah di sebut apa kita ini.
Masih ada aku yang dulu, dan ini aku !
Dan yang terpenting, aku masih bagian dari hidupmu, katamu.”

“Jaga diri dan sikap, jadi wanita seperti yang kita ingin.
Jadilah putri yang membawa harapan besar untuk kita, aku dan kedua orang tuamu.
Kita yang selalu menjaga dari jauh.”

Satu pesan masuk …

Emmm, kamu mau ngerayain gimana ..

Mungkin ini pesan yang akan mempertemukan kita ..

23 September ..

Pagi ini, aku bangun terlalu awal atau aku terlelap dalam waktu yang singkat. Aku terlalu senang untuk menyambut pagi denganmu, dengan membawa sarapan dan membangunkanmu dari tidurmu.

“Selamat pagi sayang.”

Hari ini penuh cerita, ada tawa dan tangis, ada kata manja, ada pelukan dan kecupan mesra.

Dan semuanya berlalu ..

Kembali menjalani hari yang sama, aku menjadi aku yang melihat kau berbagi waktu dengan yang lain.

 Sesaat semua menjadi semu seakan apa yang telah kita dambakan saat masih bersama ..

Hilang bersama senja yang berlabuh menyusuri waktu.
Akankah semua kembali pada awal dimana kita memulai, atau berakhir sebagai kenangan.

Ingat saat pertama aku mengatakan dengan lembut kata, aku suka semua yang ada pada dirimu, dan kau berkata hal yang sama padaku. Dan pada saat setiap pelukan kita akhiri dengan kecupan kening yang manja, sayang semua harus berakhir dengan segala sesuatu yang berat untuk kita terima. Aku memutuskan untuk pergi dan kau memutuskan untuk bersama degan yang lain.

Segala angan menari dalam lembutnya rinai hujan, membuka tabir segala yang telah di akhiri. Ada balutan lembut dan sapaan dari sang mentari, dia tersenyum seakan berkata “Kalian masih mempunyai rasa rindu yang sama.”

Sayang, semua memang harus berkahir. Dan jendela kamar menghembuskan suara membuat aku terlelap dalam angan tentang segala tentang dirimu yang aku simpan di sudut hati yang terteduh.

Kita percaya akan kita yg akan kembali pada hari dimana kita percaya masing dari kita masih menyimpan rasa. Bila kita masih mempunyai waktu yang sama, waktu yang akan menentukan semuanya.

Kita membiasakan untuk sendiri, kita yg menjalani dan mempunyai pilihan untuk sendiri atau untuk membuka kisah lain bersama yang lain. Akan tetapi, kita yang percaya pada akhir dari kita, pada kita yang akan kembali bersama.
Waktu yang akan menjawab, atau bukan. Waktu yang menentukan, juga bukan. Waktu yang akan mengantar kita pada esok yang tidak kita ketahui.

Tidak seperti angan yang selalu indah, semua ini adalah akhir dari kita …

“Aku yang bercerita, menceritakan tentang bagaimana hari-hari setelah kita berlalu. Aku yang berangan, mengangankan bagaimana bila kita akan kembali.”

( September – Daughtry )

#30HariLagukuBercerita

Kita yang lain

Terkadang, menunggu untuk menjadikan sebuah cerita membutuhkan potongan – potongan kecil dari bagian sebuah kisah. Kita melihat baik dan buruknya apa yang pernah terjadi, merupakan suatu yang sangat biasa kita lakukan dalam setiap hari kita melamunkan sebuah kisah.

Kita berbicara seolah kita tau apa yg akan terjadi esok, kita menjadi bagian dari kita yang lain.Saat aku menunggu, ada kita yang bersaksi dan mengatakan : “Kita akan bertemu di senja yg lain.”
Semua ini memang harus kita jalani. Baik buruknya sebuah perpisahan menjadikan segala sesuatunya menjadi dewasa. Seakan kita yg paling benar, selalu memutuskan segalanya dengan kemauan kita tanpa kita sadari ada bagian dari kita yg lain yg melihat dan dengan senyum kecil meneteskan air mata, menyesesali semuanya.

“Ada saatnya untuk kita memberikan waktu untuk waktu kita sendiri.”

Aku selalu berkata, bahwa aku akan selalu menunggu sebuah kisah yang hanya ada tawa di dalamnya. Ternyata aku salah, masih banyak yg akan terjadi di depan dan bukan hanya indah. Kesetiaanku untuk menunggu memang seperti pelangi. Bahkan Tuhan mencitpkan pelangi untuk kita belajar.

PELANGI SETIA MENUNGGU HUJAN, TERKADANG DIA TIDAK SELALU ADA SEHABIS HUJAN. DIA MENUNGGU WAKTU YANG TEPAT. DAN SAAT DIA HADIR, SENYUM KECIL AKAN MENGHIASI BIBIR DARI KITA YANG MELIHATNYA.

“Telah kita lewati segala sesuatunya bersama, waktu memang tidak begitu lama menjadi saksi. Tetapi percayalah, waktu yg lain menunggu kita untuk kembali. Dan waktu memisahkan kita, untuk kita menjadi kita yang telah dewasa dan berjanji untuk bercerita tentang hari yang kita lewati tanpa ada kita.”

“Menunggu tidak selalu membosankan, ada kita yang lain yang menunggu kita pohon janji, kita.”

( Meski Tenggelam Ku Bermimpi )

Masih ( Sahabatku, Kekasihku )

Berawal dari cerita tentang persahabatan, dan berakhir tanpa ada sedikitpun dari kita yang mengenal satu sama lainnya.

Waktu menunjukan pukul 02:02, aku memutar kembali semua yg pernah ada tentang kita. Aku membuka sedikit luka berbalut kenangan.

Ini tentang aku, kamu dan kekasihmu.

“Apa kabar kamu ? Masih ingatkah pada seseorang yang setia disini ? Seketika aku merindu pada kisah yang lucu ini. Aku rindu senyum kecilmu ..
Apa kabar dengan kekasihmu ? Apa dia sebaik aku menjagamu ? Apa dia menjadikanmu selalu lebih indah, seperti aku yang menjadikanmu malaikat seperti aku menjaga dan menghormati ibuku ..”
– Pesan yanga ku krimkan untuk dia, sahabatku, kekasihku.

Entah darimana ini dimulai, jauh di waktu itu kita selalu bercerita tentang bagaimana melewati hari-hari kita. Kita menjadikan waktu hanya untuk kita, bahkan menjadikan dunia pun seakan hanya kita berdua didalamnya.
Kita tidak pernah mengungkapkan bagaimana rasa sayang itu ada. Entah darimana datangnya, akhirnya kita menjalani hari bersama.
Memang tidak begitu lama waktu bersama kita, sampai akhirnya dia menjadi pilihan terbaikmu.
Dan itu menjadi pilihan terbaikmu…
Segala angan menari dalam lembutnya rinai hujan,membuka tabir segala yang telah kita akhiri.
Ada balutan lembut dan sapaan dari sang mentari, dia tersenyum dan seakan berkata, “kalian masih memiliki rindu yang sama.”
Entah darimana kalian memulainya, seakan semua hanyalah salahku yang menjadikan akhir seperti ini.

Aku melihat bagaimana caramu berbicara padanya ..
Aku melihat bagaimana caramu menatap matanya ..
Bahkan, bagaimana caramu memeluknya, sama seperti caramu melakukanku dulu, saat aku menjadi kekasihmu.
Caramu bercerita kepadanya sama dengan caramu bercerita kepadaku saat kita menjadi sahabat.

(Yaa, aku tegar untuk melihatnya …)

Berjalannya kita pada masing-masing kita membuat aku tersadar, benar adanya bila aku bukanlah orang yang kamu mau. Hanyalah orang yang kamu butuhkan, dan kamu sadar itu.
Sebaik apapun dia, tidak jauh lebih baik dari aku. Dan aku adalah orang yang kamu bilang jika aku adalah orang yang terlalu baik untukmu, dan kamu tidak pantas untukku.
Tidak ada segala sesuatunya yang sempurna ..
Tetapi ada kesempurnaan untuk siapa dia yang kita anggap menjadi sempurna untuk kita …
Seperti aku membuatmu sempurna, membuat segalanya tentangmu menjadi sempurna ..
Mungkin dia di sana juga melakukan hal yang sama, membuatmu menjadi sempurna untuknya …
Aku selalu melihatmu dari jauh, terkadang mencuri pandang untuk senyum kecilmu …

Aku yang bercerita tentang bagaimana hari-hari kita setelah kita berlalu,

dan aku yang berangan tentang bagaimana bila kita kembali, lagi.

Berakhir sudah segala tentang kita ..
Sekarang, tidak ada lagi di antara kita yang saling mengenal ..
Masih yang terbaik, Sahabatku, Kekasihku ~
Take care, Loveable.

(Masih sahabatku, kekasihku – Ada Band )

Jarak ( Ayah )

Ada yang menari didalam pikiran,

sekelompok rasa rindu memaksa untuk kembali,

kembali pada apa yang pernah aku tinggalkan.

Jauh di akhir hujan,

seorang pria menunggu cahaya matahari membiaskan titik-titik hujan menjadikan warna pelangi, dia akan membawa warna pelangi untuk seseorang yang menunggunya.

Entah beberapa lama kita membiasakan dengan ini semua, kepergiannya meninggalkan apa yang ada dimasa itu. Hanya ada tetesan air mata di setiap mengingatnya.

Itu waktu yang indah untuk kita semua, itu waktu bahagia untuk kita semua. Kita berada didalam lingkungan kesederhanaan. Hanya ada ayah, bunda, aku dan kedua puteri kecil ayah bunda. Layaknya kerajaan kecil, kita ada dalam balutan lembut keluarga.

Lewat beberapa tahun yang lalu, dia berjalan menyusuri jalan gelap meninggalkan semuanya, sembari membawa lukisan kenangan keluarganya. Tidak memperdulikan para pengisi hatinya, dia hilang dibalik lorong gelap yang dia lewati.

Ayah, dimanapun engkau saat ini. Kita memiliki berjuta rindu yang sama..

Aku berlari menembus rintikan hujan, membawa serta warna pelangi. Warna yang aku banggakan, warna yang kujadikan hadiah untukmu, tanda terima kasihku untuk segala sesuatunya. Di bawah balutan lembut sinar mentari yang tersipu malu, dihiasi oleh indahnya kicauan  burung, aku membawa cerita untukmu, ayah.

Ayah, si kecil yang dulu selalu kau manjakan dengan berjuta pelukan, sekarang telah beranjak dewasa. Dia masih terlihat sepertimu, ketampananmu ada pada paras cantiknya. Tidak begitu banyak waktu yang dia habiskan bersamamu, dia selalu merindukanmu, bahkan aku percaya dia selalu beroda agar Tuhan menjagamu selalu. Oh iya, dia menitipkan sedikit kecupan dan pelukan hangat ini.
Ayah, senyum manisnya membawa aku berlari. Dan aku membawa titipan rindu darinya. Apa kabarmu ayah, sapanya yang dia titipkan. Siapa lagi, iya benar dia puteri kerajaanmu ayah, kelak akan menjadi permaisuri untuk raja yang lain. “Jangan khawatir padaku, aku telah belajar menjadi seorang ibu untuk anak-anakku nanti, aku telah dewasa, dan au akan mengajari puteri kecilmu itu untuk menjadi lebih dari bunda dan aku.” – Pesannya untukmu ayah. Dia seperti bundanya, keras kepala dalam membuat makan malam.

Ayah, setelah apa yang terjadi dulu, dia yang membesarkan kita. Dia membawa kerajaan hingga kita sekarang yang meneruskan kerajaan itu. Salam hanta terbaik, dan do’a terbaik darinya untukmu ayah, dari bunda.

Dan aku, ayah. Ajari aku bagaimana caranya menjadi sosok ayah yang terbaik sepertimu.  Bagaimana aku menjadi pria dewasa sepertimu. Bagaimana aku menjadi laki-laki yang menjaga keluargku. Dan ajari aku menjadi raja di kerajaanku sendiri.

Tepat di depan batu nisanmu, aku membawakan melati. Yang kata bunda, dahulu kalian ingin memiliki kebun melati sendiri, sepertinya harum melati membawamu menjaga  kiya, ayah. Aku membawakan warna pelangi ini, semoga engkau bangga denganku, anakmu.

Rintik hujan mengguyur, aroma tanah basah yang membuat aku semakin terlarut kerinduan. Tidak ada batasannya kita untuk merindu pada keadaan yang pernah terjadi, meski itu terlampau lama.
Jarak antara aku, dan ayah.
Aku percaya dan selalu percaya, kau selalu menyaksikan dan menjaga dari tempat yang indah jauh di sana. Melihat kita berkembang menjadi, malaikatmu.

Selamat malam ayah, selamat tidur. Kita semua rindu kehadiranmu (: