Jarak ( Ayah )

Ada yang menari didalam pikiran,

sekelompok rasa rindu memaksa untuk kembali,

kembali pada apa yang pernah aku tinggalkan.

Jauh di akhir hujan,

seorang pria menunggu cahaya matahari membiaskan titik-titik hujan menjadikan warna pelangi, dia akan membawa warna pelangi untuk seseorang yang menunggunya.

Entah beberapa lama kita membiasakan dengan ini semua, kepergiannya meninggalkan apa yang ada dimasa itu. Hanya ada tetesan air mata di setiap mengingatnya.

Itu waktu yang indah untuk kita semua, itu waktu bahagia untuk kita semua. Kita berada didalam lingkungan kesederhanaan. Hanya ada ayah, bunda, aku dan kedua puteri kecil ayah bunda. Layaknya kerajaan kecil, kita ada dalam balutan lembut keluarga.

Lewat beberapa tahun yang lalu, dia berjalan menyusuri jalan gelap meninggalkan semuanya, sembari membawa lukisan kenangan keluarganya. Tidak memperdulikan para pengisi hatinya, dia hilang dibalik lorong gelap yang dia lewati.

Ayah, dimanapun engkau saat ini. Kita memiliki berjuta rindu yang sama..

Aku berlari menembus rintikan hujan, membawa serta warna pelangi. Warna yang aku banggakan, warna yang kujadikan hadiah untukmu, tanda terima kasihku untuk segala sesuatunya. Di bawah balutan lembut sinar mentari yang tersipu malu, dihiasi oleh indahnya kicauan  burung, aku membawa cerita untukmu, ayah.

Ayah, si kecil yang dulu selalu kau manjakan dengan berjuta pelukan, sekarang telah beranjak dewasa. Dia masih terlihat sepertimu, ketampananmu ada pada paras cantiknya. Tidak begitu banyak waktu yang dia habiskan bersamamu, dia selalu merindukanmu, bahkan aku percaya dia selalu beroda agar Tuhan menjagamu selalu. Oh iya, dia menitipkan sedikit kecupan dan pelukan hangat ini.
Ayah, senyum manisnya membawa aku berlari. Dan aku membawa titipan rindu darinya. Apa kabarmu ayah, sapanya yang dia titipkan. Siapa lagi, iya benar dia puteri kerajaanmu ayah, kelak akan menjadi permaisuri untuk raja yang lain. “Jangan khawatir padaku, aku telah belajar menjadi seorang ibu untuk anak-anakku nanti, aku telah dewasa, dan au akan mengajari puteri kecilmu itu untuk menjadi lebih dari bunda dan aku.” – Pesannya untukmu ayah. Dia seperti bundanya, keras kepala dalam membuat makan malam.

Ayah, setelah apa yang terjadi dulu, dia yang membesarkan kita. Dia membawa kerajaan hingga kita sekarang yang meneruskan kerajaan itu. Salam hanta terbaik, dan do’a terbaik darinya untukmu ayah, dari bunda.

Dan aku, ayah. Ajari aku bagaimana caranya menjadi sosok ayah yang terbaik sepertimu.  Bagaimana aku menjadi pria dewasa sepertimu. Bagaimana aku menjadi laki-laki yang menjaga keluargku. Dan ajari aku menjadi raja di kerajaanku sendiri.

Tepat di depan batu nisanmu, aku membawakan melati. Yang kata bunda, dahulu kalian ingin memiliki kebun melati sendiri, sepertinya harum melati membawamu menjaga  kiya, ayah. Aku membawakan warna pelangi ini, semoga engkau bangga denganku, anakmu.

Rintik hujan mengguyur, aroma tanah basah yang membuat aku semakin terlarut kerinduan. Tidak ada batasannya kita untuk merindu pada keadaan yang pernah terjadi, meski itu terlampau lama.
Jarak antara aku, dan ayah.
Aku percaya dan selalu percaya, kau selalu menyaksikan dan menjaga dari tempat yang indah jauh di sana. Melihat kita berkembang menjadi, malaikatmu.

Selamat malam ayah, selamat tidur. Kita semua rindu kehadiranmu (:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s