Dua Puluh Dua

00:22, 22 september ..

Aku membuka telephone genggamku, ada satu pesan singkat.

Happy 22

Hari ini tanggal 22, tepat beberapa waktu lalu aku menemukan di seorang yang bisa mengisi waktu salam hariku. Sayang, sekarang semua berubah.

Singkat balasku,

Happy 22 too ..

Lalu pesan demi pesan berlanjut.
Dia yang sekarang menjadi milik orang lain, masih mengingat angka ini.

Sayang, kita tidak bisa merayakan berdua. Seandainya …

(Isi pesanku untuknya ..)

Berjalannya waktu tidak merubah apa yang kita rasakan,
Kita masih menyimpan segalanya dan hanya kita yang tau ..
Kembali aku terdiam, aku duduk di kursi panjang di sebuah warung kecil.
Aku buka pesan masuk, aku baca kembali pesan-pesan yang pernah ada ..

Ahhh ! AKU RINDU !!

“Kita yang terjaga jarak, memisahkan waktu.
Kita yang telah berbeda, masih menyimpan kenangan.
Dan kita adalah kita.
Hati kita yang masih saling memiliki,
Masih ada cerita aku dan kamu,di balik cerita kalian.”

Aku teringat tentang beberapa lagu, lagu dalam folder yang dia pernah berpesan agar aku mendengarkan. SEPTEMBER – DAUGHTRY ..

Of all the things I still remember
Summer’s never looked the same
The years go by and time just seems to fly by
But the memories remain

Aku terbawa dalam alunannya, dan membuka beberapa luka.
Rasa bersalah yang mendalam yang tersisa.

Maaf, saat itu benar bila aku membiarkannya sendiri. Saat dimana dia butuh apa yang dinamakan perhatian. Bukan hanya dalam hitungan jam, bahkan bukan hanya dalam hitungan hari. Dan sampai kita bertemu kembali, dan benar aku tergantikan. Dia yang bisa memberimu rasa itu, dalam hitungan hari bisa merubah segalanya. Dan untuk kamu, maaf.

Walaupun aku tau, aku masih yang terbaik dan masih selalu ada, bahkan aku masih menjagamu dari sini, dari sudut pelangi yang akan memberikan pundakku untuk menopang beban hidupmu, sayang.
Mungkin untuk sekarang, aku akan berdiam dan melihat bagaimana dia melakukanmu, apa sama seperti aku ? Apa dia sebaik aku ? Atau mungkin dia akan bisa menerima segalanya tentangmu.

Sayang, kelak kau akan membaca tulisan ini.
Singkat pesanku di dalamnya untukmu …

“Maaf, mungkin aku terlalu manja.
Aku senang kamu masih mengingatnya sayang,
Singkat waktu yang ada membuat kita berproses menjadi seperti ini.
Apa kabar kamu.
Seandainya waktu itu kamu bisa lebih sabar, mungkin sekarang tidak seperti ini.
Keadaannya akan sama,
Penuh dengan cerita angan kita tentang hari esok.”

“Apa kabar mama ?
Mungkin sekarang kamu menyimpan beban itu sendiri (lagi).
Sayang, ingat sampai saat ini aku ada di belakang kamu.
Menemani setiap waktu, menemani dalam jarak yang entah di sebut apa kita ini.
Masih ada aku yang dulu, dan ini aku !
Dan yang terpenting, aku masih bagian dari hidupmu, katamu.”

“Jaga diri dan sikap, jadi wanita seperti yang kita ingin.
Jadilah putri yang membawa harapan besar untuk kita, aku dan kedua orang tuamu.
Kita yang selalu menjaga dari jauh.”

Satu pesan masuk …

Emmm, kamu mau ngerayain gimana ..

Mungkin ini pesan yang akan mempertemukan kita ..

23 September ..

Pagi ini, aku bangun terlalu awal atau aku terlelap dalam waktu yang singkat. Aku terlalu senang untuk menyambut pagi denganmu, dengan membawa sarapan dan membangunkanmu dari tidurmu.

“Selamat pagi sayang.”

Hari ini penuh cerita, ada tawa dan tangis, ada kata manja, ada pelukan dan kecupan mesra.

Dan semuanya berlalu ..

Kembali menjalani hari yang sama, aku menjadi aku yang melihat kau berbagi waktu dengan yang lain.

 Sesaat semua menjadi semu seakan apa yang telah kita dambakan saat masih bersama ..

Hilang bersama senja yang berlabuh menyusuri waktu.
Akankah semua kembali pada awal dimana kita memulai, atau berakhir sebagai kenangan.

Ingat saat pertama aku mengatakan dengan lembut kata, aku suka semua yang ada pada dirimu, dan kau berkata hal yang sama padaku. Dan pada saat setiap pelukan kita akhiri dengan kecupan kening yang manja, sayang semua harus berakhir dengan segala sesuatu yang berat untuk kita terima. Aku memutuskan untuk pergi dan kau memutuskan untuk bersama degan yang lain.

Segala angan menari dalam lembutnya rinai hujan, membuka tabir segala yang telah di akhiri. Ada balutan lembut dan sapaan dari sang mentari, dia tersenyum seakan berkata “Kalian masih mempunyai rasa rindu yang sama.”

Sayang, semua memang harus berkahir. Dan jendela kamar menghembuskan suara membuat aku terlelap dalam angan tentang segala tentang dirimu yang aku simpan di sudut hati yang terteduh.

Kita percaya akan kita yg akan kembali pada hari dimana kita percaya masing dari kita masih menyimpan rasa. Bila kita masih mempunyai waktu yang sama, waktu yang akan menentukan semuanya.

Kita membiasakan untuk sendiri, kita yg menjalani dan mempunyai pilihan untuk sendiri atau untuk membuka kisah lain bersama yang lain. Akan tetapi, kita yang percaya pada akhir dari kita, pada kita yang akan kembali bersama.
Waktu yang akan menjawab, atau bukan. Waktu yang menentukan, juga bukan. Waktu yang akan mengantar kita pada esok yang tidak kita ketahui.

Tidak seperti angan yang selalu indah, semua ini adalah akhir dari kita …

“Aku yang bercerita, menceritakan tentang bagaimana hari-hari setelah kita berlalu. Aku yang berangan, mengangankan bagaimana bila kita akan kembali.”

( September – Daughtry )

#30HariLagukuBercerita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s