Surat Untuk Warna

Terpampang jelas sebuah senyuman di lembaran sebuah klise hitam putih yang ada di balik bingkai tua itu. Sepasang kekasih dengan gaun hitam putihnya merangkai cinta dalam rangkaian mawar putih.

Ini cerita tentang sebuah warna yang menyatukan sepasang kekasih yang dimana mereka tidak pernah ingin mencinta dalam waktu yang lama …

Aku menjadi saksi, tetapi aku bukan Tuhan yang mengatur pertemuan mereka di bawah lukisan menara roma. Aku menjadi penulis cerita mereka, meskipun hanya terungkapkan dari senyum bahagia tapi itu cukup bagiku untuk menuliskan kisahnya.

Tentang hitam masa lalu keduanya, sama-sama pernah jatuh dalam warna kelabu pada kisah percintaan mereka. Apa yang mereka impikan tentang pelangi, pernah hancur seperti marahnya langit saat hujan deras yang bercampur dengan petir. Iya, mereka pernah sama-sama mencinta dan pernah merasakan bagaimana saat mereka ditinggalkan. Apa yang mereka bangun dalam waktu yang sangat lama dengan pondasi yang sangat kuat, hancur karena rusaknya sebuah janji. Bukan hanya sekedar janji,  itu tentang sebuah awal ikatan tali suci yang akhirnya hanya kenangan pahit.

Terpuruknya mereka karena suatu keadaan, membuat mereka tidak percaya tentang cinta lagi.

Hingga suatu ketika, warna yang bermahkotakan cahaya mencoretkan warna-warnanya pada hari-hari mereka. Sampai di ujung suatu malam, mereka bertemu di bawah sebuah lukisan menara roma.

Lukisan yang bagus ya, kata seorang pria pada wanita yang memandang lukisan itu sejak lama. Ini lukisanku, apa yang aku lukis adalah tempat dimana tunanganku dulu berjanji akan membawaku kesana, dengan nada sayu wanita itu menjawabnya. Aku pernah menjadi seorang sepertimu, pria itu menjawabnya lantang. Benarkah ? Lalu bagaimana sekarang, wanita itu kebingungan …

“Aku sudah melupakannya, itu hanya masa lalu dengan warna kelabu dan hanya aku yang tau. Tidak perlu terlalu dipikirkan, semua berlalu dengan waktu yang berjalan, perlahan kita akan melupakannya. Aku mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, memberi peringatan agar dia tidak mengganggu di hari esokku.”

Tidak berujung, mereka melukis bersama dengan warna yang sangat indah dan menggambarkan segala sesuatu dan menjadikannya sebagai bukti cinta mereka. Terkadang, hanya hitam dan putih yang menjadi warnanya tetapi bila disatukan menjadi perpaduan masa lalu dan harap masa depan yang penuh cerita.

“Di balik senyuman yang ada pada bingkai, aku menuliskan sebuah surat yang sebenernnya ingin mereka sampaikan …

Surat untuk warna …

Meskipun kita pernah memiliki kelabu di masa lalu, kita tau bahwa itu juga adalah bagian darimu. Hitam dan putih jika di satukan kan menjadi kelabu. Ibarat hitam masa lalu dan putih adalah hari esok, semuanya saling melengkapi.

Tidak ada seseorang yang tidak mempunyai kelabu di masa lalunya.

Tetapi, kita berterima kasih kepadamu warna. Kita menjadi mengerti tentang apa yang telah diberikan baik atau buruk, menjadikan pelajaran untuk kita. Dan kita mengerti, bahwa cinta tidak mudah didapatkan tanpa pengorbanan.

Kita mengorbankan sesuatu, yaitu masa lalu. Untuk mendapatkan hari ini.

Untuk warna, terimakasih. Sayang kita telah meninggalkan dunia ini tanpa melihat indahnya warna lainmu.

Sekali terima kasih untuk kelabumu, dan untuk hitam putihmu…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s