Surat Penggemar

Banyak dari kita untuk ingin belajar lebih di setiap harinya. Entah darimana pelajaran itu di dapat, apabila kita bijak untuk melihatnya akan banyak pelajaran dari sekitar kita.

Suatu waktu aku melihat seorang yang bercerita dalam sebuah wadah dengan kata demi kata yang di rajut menjadi kalimat. Layaknya bila kita menggambar pegunungan, disitu ada matahari, awan, pedesaan, dan persawahan. Singkat, jelas dan caranya menyampaikan begitu sangat mudah untuk diterima.

Jika dia matahari, mungkin dia sangat banyak membantu menyinari belahan bumi sisi satu bergantian dengan sisi lainnya. Tetapi itu terlalu berlebihan, aku mengibaratkan dia sebagai rerumputan. Menurut banyak orang rerumputan hanyalah rerumputan, akan tetapi untu sebagian orang banyak yang bisa diambil dari rumput itu. Semisal warna hijaunya mengindahkan sekitar bukan, atau bisa menjadi pakan ternak untuk para penggembala. Dan juga menjadi rumah bagi serangga yang tidak selalu terlihat oleh mata.

“Seperti itulah dia, menurut banyak orang dia mungkin hanya berceloteh. Tapi menurut sebagian orang, dia memberi banyak pelajaran. Begitu juga untukku.”

Tidak ada salahnya untuk kita berbagi, baik itu apa yang kita tau atau yang pernah kita alami dan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Melalui apapun penyampaiannya, belajarlah menghargai maksud baik orang lain apalagi untuk dibagikan untuk sesama.
Dan yang terpenting adalah jangan anggap diri kita adalah yang terhebat, ingat masih ada langit di atas langit dan dalamnya samudra siapa yang tau.

Surat Penggemar – Untuk Windy Ariestanty (@windyariestanty)

Iklan

Hujan Kecil Januari

Hujan kecil di januari membawa suasana ramah dan sejuk di kota ini. Sepagi ini, aku masih menjaga tidurku dan melawan kantukku.

Januari, awal tahun ini aku ingin banyak merubah segalanya yang pernah ada. Menutup tahun-tahun sebelumnya, berjanji tidak akan mengulang luka, menjadikan pelajaran berharga tentang yang pernah ada.

Januari, aku menemukan teman, sahabat, kisah, dan juga cinta yang baru. Sepertinya tidak membuang waktu untukku singgah ke kota ini. Ada cerita baru yang aku awali.

“Tidak perlu takut untuk membuka cerita baru. Jalan yang ada di depan masihlah teramat panjang. Bukan mau mati esok kan ?”

Akan ada banyak harap di januari ini, akan ada banyak rajutan mimpi yang aku rajut kembali.

Langkah demi langkah di bawah lampu pinggir jalan yang bewarna kuning redup mengingatkan atas segala yang pernah berlalu. Sesampainya di ujung, aku hanya akan mengenang semuanya di suatu saat nanti. Mungkin aku akan tersenyum kecil, dan mengatakan dalam hati aku pernah bodoh.

Terimakasih untuk januari, aku rasa aku jatuh cinta dengan hujan kecil di januari.

Kita dan cerita kita

( Pagi ini )

Sebenarnya semua tampak berbeda,
Dengan ada atau tidaknya kehadiranmu.
Apa yang aku tunggu di pagi dan malam, tidak akan pernah datang. Entah kemana perginya, dan kemana harus mencarinya. Seakan puing-puing dari dedaunan kering yang terbawa angin, mengisyaratkan bahwa mereka adalah kenangan yang berceceran. Menjadi sedikit penyesalan.

Mungkin pagi ini akan terasa lama,
Karena pagi ini akan aku habiskan untuk menyesalkan keadaan yang pernah ada. Hanya menyesalkan apa yang pernah kita hargai. Atau lebih tepatnya menyesalkan, kita.

Kita yang bersahabat, kita yang menjadi sepasang kekasih dan kembali pada aku yang menjadi sahabatmu. Aku yang menjadi kertas untuk tempat menuliskan cerita tangismu, dan air mata yang menjadi penanya.

Aku tau, sedikit kesalahan bisa merubah semuanya. Juga dengan kesalahanku, merubahmu menjadi kekasih dari sahabat dan sekarang, menjadi kekasih orang.

Aku dan cerita ini, enggan untuk meninggalkan. Karena di balik ceritamu dan kekasihmu, masih ada harapanmu untuk bersamaku. Aku tidak tau ini apa, dan aku tidak pernah tau ini arti dari apa. Atau mungkin ini adalah ELEGI DARI SEBUAH HARAPAN PALSU.

Setidaknya, kita bahagia dengan keadaan yang seperti ini. Entah ada alasan apa di balik ini, aku masih menyimpan waktu terbaikku untukmu. Selamat pagi.

( Malam ini )

Sepertinya, segelas coklat hangat dapat membuatku nyaman dengan udara sedingin ini. Atau hanya aku yang merasakan dinginnya.
Segelas coklat dan melihat kekasih yang selalu aku jaga seperti bagaimana menjaga do’a untuk mereka yang terbaik, sedang bermesraan dengan kekasihnya. Mungkin aku hanya kekasih-kekasihnya yang lain.

Bagaimana kalian menggenggam, bagaimana kalian memandang, bagaimana kalian saling melempar senyum, dan bagaimana kalian berpelukan, itu sama ketika kita menjadi sepasang merpati, hanya kita.

Kita menari dalam lantunan lagu yang membawa kita kembali pada satu cerita tentang kita. Membawa kembali cerita yang kita pertahankan, dan hanya kita yang tau.
Kisah awal membawa kita berjalan bersama, kisah akhir membuat kita terpisah dalam keadaan yang masih sama merindu, dan menyimpan perasaan yang sama.

Perbedaan yang ada pada kita, menjadikan kita menyesali keadaan yang telah terjadi. Kita tersudut pada pertanyaan yang sama, yang selalu menjadikan hari kita lebih kelam walaupun kita selalu tersenyum. Pertanyaan yang selalu sama di setiap lamunan, apakah jika kita kembali akan selalu hanya indah di dalamnya, atau akan menjadi kisah yang sama lagi.

Selamanya kita bersama, itu yang selalu kita ucap. Memberikan yang terbaik untuk masing-masing dari kita, itu yang terjadi dalam hari-hari kita. Menjauh untuk menutupi segala rasa yang ada, itu yang ada sekarang.

Kita, membicarakan tentang kita tidak akan pernah ada akhirnya. Aku percaya siapapun, selalu mempunyai cerita tentang “Kita” yang lainnya.

Kemanapun aku berjalan, selalu membawa angan tentang kita. Dan dalam lamunan, jauh bertanya dimana kamu sekarang.
Dalam setiap do’a, tersisipkan selalu yg terbaik untuk kita di depannya nanti. Kemana kita akan melangkah, itu pilihan dari kita.

Kelak kita akan bertemu, kelak kita akan kehilangan kita yang dulu pernah kita kenal. Kita berproses untuk menjadi lebih baik, seperti apa yang kita janjikan dulu. Kita akan bertemu dengan segala yang berbeda.

“Benar jika kupu pun berproses berat untuk menjadi sebuah kupu-kupu yang cantik dengan warnanya.”

Kenapa aku tidak pernah lelah dan mencoba menggantikan segala yang ada. Ah, itu memang kesetiaan. Menanyakan pertanyaan pada hening, dan setiap jawaban tertulis dalam goresan titik demi titik. Perlahan menjabarkan perasaan, perlahan menciptakan kenangan yang berlari dalam pikiran.

Aku masih terjaga mengingat semua tentang kita, setiap yang di akhiri titik pena, masih mempunyai cerita lainnya. Benar, titik bukan akhir dari sebuah cerita, masih ada cerita lain di balik titik yang ada.
Alunan lagu menemani setiap gerakan huruf demi huruf yang tersusun dengan rapi. Alunan lagu juga yang menyamarkan isakan tangis kecil, seoalah dia menghapus air mata ini.

Malam ini terasa sangat panjang, ini malam terkahir aku akan menulis. Ku titipkan segalanya kepada Tuhan. Keesokan harinya aku akan pergi, melangkah dari kota ini membawa sekotak kenangan yang aku simpan dalam kotak berwarna coklat. Warna yg kita suka.

“Selamat jalan kita, tidak akan ada kita yang dulu. Kita akan kembali nanti, jika dari kita akan sama membawa perasaan dan kenangan yang sama. Kita akan bertemu di sore jingga, bersama senja milik kita.”

“I will let you go .. I know you’re the best thing i ever had, i know you and me, can’t be us now. But maybe it will someday. Take your choice ..” – Pesan terakhir yang selalu aku baca.

Selamat malam, dan maaf aku mengakhiri cerita dari kita. Kelak kita akan bertemu, love. Dari aku sahabatmu.

( Yiruma – River Flow In You )

Ayah tidak akan pulang, nak.

“Berdo’a, jaga bundamu dan kedua adikmu.”

Pesannya yg selalu aku ingat, pesan dari ayah untuk anandanya yg menjadi harapannya.

Jauh dari jarak bumi ke titik bumi yang lain,setiap ayah yang merindukan anak-anaknya, ada tangis seorang ayah yang menyesali sebuah perpisahan.

Mungkin dari kalian menikmati berada di tengah-tengah hangat lingkungan keluarga, dan untuk kalian yg lain merasa iri dengan keadaan keluarga yg ada.
Menyesali keadaan yg telah terjadi, atau berharap merubah kembali segalanya. Itu bukan do’a, itu harapan dr kita.

Ahh, semua berputar. Ada aku kecil yang bermanja pada ayah. Tangisku adalah hiburan untuknya, marahku sewaktu itu adalah keharusannya untuk menenangkanku dengan segala caranya.
Sekarang aku yg mencarinya, keberadaannya entah dimana.

“Tahun ke 14, terlalu lama ayah pergi. Ayah pasti akan membawa bingkisan untuk kita, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan menjaga kita jauh disana.”

Aku hanya takut kehabisan waktu, tidak bisa membalas segala sesuatunya. Ayah, terimakasih untuk percaya.

Hari ini dia berulang tahun,

Lewat sudah 50 tahun lebuh usianya.

Tuhan, dimanapun dia saat ini,

Berikan segala sesuatunya untuk yang terbaik.

Dekatkan dia dengan surga-Mu.

Selamat ulang tahun, ayah.

Perahu Kertas

Perahu kertasku kan melaju membawa surat cinta bagimu, kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya …

Perahu kertas mengingatkanku, betapa ajaib hidup ini ..
Mencari-cari tambatan hati, kau sahabatku sendiri ..
Hidupkan lagi mimpi, cita-cita yg lama ku pendam sendiri ..

Berdua ku bisa percaya …

Ku bahagia, kau telah terlahir di dunia. Dan kau ada, di antara miliyaran manusia,

DAN KU BISA DENGAN RADARKU MENEMUKANMU …

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi, rasaku, cintaku, padamu ..

( Selanjutnya .. )

Selebihnya kita mungkin akan menjadi sahabat, selebihnya kita tidak tau, 1 menit ke depan bukan milik kita.

Mungkin kita akan kehilangan, mungkin kita akan memahami setiap alasan untuk pergi, atau mungkin kita akan selalu setia bersama kenangan.

Apa yang ada akan menjadi satu arti, luka dan kenangan. Hampir sama bentuknya, tapi berbeda arti dan bisa menjadi alasan untuk melangkah jauh atau untuk bertahan.

Sayang, beberapa saat yg lalu, di angka yg sama, kita terlelap dalam jarak yg mendekatkan. Hanya ada aku dan kamu. Di waktu ini, kita berada dalam jarak yg memisahkan. Apa kabar ? Masih seperti kamu yg dulu ?

Tidak perlu takut untuk menghadapi, aku belajar dari cara berpikir kita, antara bagaimana kita melupakan dan mempertahankan sesuatu untuk alasan sesuatu.

( Perahu Kertas – Maudy )

Dua Puluh Dua

00:22, 22 september ..

Aku membuka telephone genggamku, ada satu pesan singkat.

Happy 22

Hari ini tanggal 22, tepat beberapa waktu lalu aku menemukan di seorang yang bisa mengisi waktu salam hariku. Sayang, sekarang semua berubah.

Singkat balasku,

Happy 22 too ..

Lalu pesan demi pesan berlanjut.
Dia yang sekarang menjadi milik orang lain, masih mengingat angka ini.

Sayang, kita tidak bisa merayakan berdua. Seandainya …

(Isi pesanku untuknya ..)

Berjalannya waktu tidak merubah apa yang kita rasakan,
Kita masih menyimpan segalanya dan hanya kita yang tau ..
Kembali aku terdiam, aku duduk di kursi panjang di sebuah warung kecil.
Aku buka pesan masuk, aku baca kembali pesan-pesan yang pernah ada ..

Ahhh ! AKU RINDU !!

“Kita yang terjaga jarak, memisahkan waktu.
Kita yang telah berbeda, masih menyimpan kenangan.
Dan kita adalah kita.
Hati kita yang masih saling memiliki,
Masih ada cerita aku dan kamu,di balik cerita kalian.”

Aku teringat tentang beberapa lagu, lagu dalam folder yang dia pernah berpesan agar aku mendengarkan. SEPTEMBER – DAUGHTRY ..

Of all the things I still remember
Summer’s never looked the same
The years go by and time just seems to fly by
But the memories remain

Aku terbawa dalam alunannya, dan membuka beberapa luka.
Rasa bersalah yang mendalam yang tersisa.

Maaf, saat itu benar bila aku membiarkannya sendiri. Saat dimana dia butuh apa yang dinamakan perhatian. Bukan hanya dalam hitungan jam, bahkan bukan hanya dalam hitungan hari. Dan sampai kita bertemu kembali, dan benar aku tergantikan. Dia yang bisa memberimu rasa itu, dalam hitungan hari bisa merubah segalanya. Dan untuk kamu, maaf.

Walaupun aku tau, aku masih yang terbaik dan masih selalu ada, bahkan aku masih menjagamu dari sini, dari sudut pelangi yang akan memberikan pundakku untuk menopang beban hidupmu, sayang.
Mungkin untuk sekarang, aku akan berdiam dan melihat bagaimana dia melakukanmu, apa sama seperti aku ? Apa dia sebaik aku ? Atau mungkin dia akan bisa menerima segalanya tentangmu.

Sayang, kelak kau akan membaca tulisan ini.
Singkat pesanku di dalamnya untukmu …

“Maaf, mungkin aku terlalu manja.
Aku senang kamu masih mengingatnya sayang,
Singkat waktu yang ada membuat kita berproses menjadi seperti ini.
Apa kabar kamu.
Seandainya waktu itu kamu bisa lebih sabar, mungkin sekarang tidak seperti ini.
Keadaannya akan sama,
Penuh dengan cerita angan kita tentang hari esok.”

“Apa kabar mama ?
Mungkin sekarang kamu menyimpan beban itu sendiri (lagi).
Sayang, ingat sampai saat ini aku ada di belakang kamu.
Menemani setiap waktu, menemani dalam jarak yang entah di sebut apa kita ini.
Masih ada aku yang dulu, dan ini aku !
Dan yang terpenting, aku masih bagian dari hidupmu, katamu.”

“Jaga diri dan sikap, jadi wanita seperti yang kita ingin.
Jadilah putri yang membawa harapan besar untuk kita, aku dan kedua orang tuamu.
Kita yang selalu menjaga dari jauh.”

Satu pesan masuk …

Emmm, kamu mau ngerayain gimana ..

Mungkin ini pesan yang akan mempertemukan kita ..

23 September ..

Pagi ini, aku bangun terlalu awal atau aku terlelap dalam waktu yang singkat. Aku terlalu senang untuk menyambut pagi denganmu, dengan membawa sarapan dan membangunkanmu dari tidurmu.

“Selamat pagi sayang.”

Hari ini penuh cerita, ada tawa dan tangis, ada kata manja, ada pelukan dan kecupan mesra.

Dan semuanya berlalu ..

Kembali menjalani hari yang sama, aku menjadi aku yang melihat kau berbagi waktu dengan yang lain.

 Sesaat semua menjadi semu seakan apa yang telah kita dambakan saat masih bersama ..

Hilang bersama senja yang berlabuh menyusuri waktu.
Akankah semua kembali pada awal dimana kita memulai, atau berakhir sebagai kenangan.

Ingat saat pertama aku mengatakan dengan lembut kata, aku suka semua yang ada pada dirimu, dan kau berkata hal yang sama padaku. Dan pada saat setiap pelukan kita akhiri dengan kecupan kening yang manja, sayang semua harus berakhir dengan segala sesuatu yang berat untuk kita terima. Aku memutuskan untuk pergi dan kau memutuskan untuk bersama degan yang lain.

Segala angan menari dalam lembutnya rinai hujan, membuka tabir segala yang telah di akhiri. Ada balutan lembut dan sapaan dari sang mentari, dia tersenyum seakan berkata “Kalian masih mempunyai rasa rindu yang sama.”

Sayang, semua memang harus berkahir. Dan jendela kamar menghembuskan suara membuat aku terlelap dalam angan tentang segala tentang dirimu yang aku simpan di sudut hati yang terteduh.

Kita percaya akan kita yg akan kembali pada hari dimana kita percaya masing dari kita masih menyimpan rasa. Bila kita masih mempunyai waktu yang sama, waktu yang akan menentukan semuanya.

Kita membiasakan untuk sendiri, kita yg menjalani dan mempunyai pilihan untuk sendiri atau untuk membuka kisah lain bersama yang lain. Akan tetapi, kita yang percaya pada akhir dari kita, pada kita yang akan kembali bersama.
Waktu yang akan menjawab, atau bukan. Waktu yang menentukan, juga bukan. Waktu yang akan mengantar kita pada esok yang tidak kita ketahui.

Tidak seperti angan yang selalu indah, semua ini adalah akhir dari kita …

“Aku yang bercerita, menceritakan tentang bagaimana hari-hari setelah kita berlalu. Aku yang berangan, mengangankan bagaimana bila kita akan kembali.”

( September – Daughtry )

#30HariLagukuBercerita